Beranda HEADLINE Siapkah Masyarakat Indonesia Memasuki Era Digital?

Siapkah Masyarakat Indonesia Memasuki Era Digital?

35
BERBAGI

YOGYAKARTA, Kabardaerah.com – Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menggelar diskusi publik “Indonesia Memasuki Era Digital, Siapkah Masyarakat Kita?” dengan menghadirkan pembicara Anggota Komisi I DPR RI DR. H. Sukamta, Staf Ahli Menteri Kominfo RI Prof. Dr. Hendri Subiakto, SH, MA dan Ahli IT yang sekaligus Staf Pengajar UGM Drs. Bambang Nurcahyo Prastowo, M.Sc, Jumat (08/12) bertempat di Auditorium LPP Jalan Urip Sumohardjo, Yogyakarta.

Pada kesempatan itu Sukamta menceritakan perkembangan digital di negara Cina yang pemanfaatannya untuk mendukung kegiatan yang produktif, berbeda dengan di Indonesia yang masih lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang produktif. “Pentingnya penggunaan cyber space secara sehat seperti di negara-negara maju, cyber space dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang produktif, sedangkan di Indonesia digunakan untuk hal-hal yang non produktif. Di Indonesia itu ternyata data kita masih digunakan untuk sosialisasi yang tidak bermanfaat seperti untuk berkelahi, seolah hanya untuk perang antar suku,” katanya.

Berdasarkan riset, Indonesia berada di urutan ke-60 dari 130 negara di dunia sebagai negara yang menggunakan internet untuk kegiatan yang bersifat produktif. “Indonesia masih rangking menengah ke bawah, kita masih kalah dengan India, Afrika apalagi Cina. Untuk itu marilah menggunakan cyber space untuk hal-hal yang produktif baik secara ekonomi, sosial budaya, teknologi dan lainnya,” jelasnya.

Sementara Hendri Subiakto mengakui kuota internet di Indonesia telah mengalami defisit hampir 200 MHz, bahkan diperkirakan pada tahun 2020 kuota internet di Tanah Air bisa semakin anjlok dan mengalami defisit hingga mencapai 500MHz. “Kondisi tersebut tidak lepas dari cukup tingginya ketergantungan masyarakat di Indonesia dalam menggunakan jaringan internet. Semakin menyusutnya kapasitas kuota internet, mengindikasikan bahwa kebutuhan broad band dengan keberadaannya di frekuensi sudah tidak memenuhi, itulah yang kemudian digunakan oleh operator untuk jaringan seperti 3G maupun 4G,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakannya, solusi untuk ancaman macetnya jalannya internet yaitu dengan mengkoneksikan perangkat lunak dengan fiber optik. “Namun cara ini juga tidak flexibel karena penggunaannya terbatas ruang, kecuali fiber optik diperkuat terus,” katanya. (Bray)