Beranda HEADLINE Puluhan Komunitas Bakal Ikuti Festival Jogja Gumregah

Puluhan Komunitas Bakal Ikuti Festival Jogja Gumregah

46
BERBAGI

YOGYAKARTA, Kabardaerah.com – Kelompok Kerja (Pokja) Penguatan Lembaga Pengelola dan Pelestari Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY akan menggelar Festival Jogja Gumregah 2017 pada hari Jumat 24 November 2017, bertempat di Sanggarbambu Tempuran Tamantirto Kasihan Bantal.

Diungkapkan Ketua Penyelenggara Widihasto Wasana Putra acara ini dikemas dalam bentuk “Srawung Jogja: Temu Lintas Komunitas Budaya” dengan menghadirkan puluhan komunitas budaya lintas bidang yang punya peran nyata dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

“Komunitas yang terlibat terbagi dalam dua kategori. Untuk kategori komunitas pentas menampilkan
Paguyuban Kembang Adas, Jogja Chinese and Art Culture Centre, Omah Kebon, Jogja Akting Studio, Wiwik Pungki Art Fashion, Komunitas Istimewa Kreatif, Sanggar Anak Alam, Sastra Kanjeng, Senja Bersastra di Malioboro, Singir Kembaran dan musik thek-thek, Bregada Winata Manggala, Paseduluran Angkringan Silat, pentas biola dari Sekolah Musik Alam asuhan Ucok Hutabarat, Omah Cangkem Pardiman Djoyonegoro dan penampilan sejumlah seniman senior seperti Whani Darmawan, Untung Basuki, Liek Suyanto dan Otok Bima Sidarta,” terangnya.

Sedangkan untuk kategori berikutnya adalah komunitas yang akan berbagi cerita dan pengalaman menggerakkan masyarakat yaitu Komunitas Reresik Sampah Visual, Ketjil Bergerak, Jogja Nyah Nyoh, Jogja Berkebun, Rumah Garuda, Radio Buku, Gerak Pancasila dan Komunitas Pemerhati Sungai,

“Acara terbagi dalam tiga sesi. Sesi pagi hingga siang melukis bersama diiringi pentas musik akustik. Kemudian sesi kedua siang hingga petang dan sesi ketiga petang hingga malam akan diisi talkshow dan pentas seni lintas komunitas,” kata Hasto.

Acara ini lanjut Hasto sebagai upaya mengangkat kiprah komunitas lintas budaya sehingga menjadi penting mengingat sedikit banyak kiprah mereka ikut mewarnai dinamika sosial di Yogyakarta. “Disisi lain keberadaan mereka selama ini keberadaannya relatif di bawah permukaan, kurang mendapatkan ruang dan praktis bergerak tanpa campur tangan pemerintah. Aktivitas mereka dijalankan dengan modal keswadayaan dan kerelawanan para penggiatnya,” lanjutnya.

Spirit tersebut kiranya senyampang dengan visi Jogja Gumregah yakni tekad semangat bersama saiyeg saeko kapti nyawiji golong gilig membangun Jogja Istimewa. “Sehingga melalui kegiatan ingin diharapkan memperkokoh jejaring diantara simpul komunitas masyarakat, mendorong eksistensi komunitas agar terhubung dengan pengambil kebijakan serta sebagai upaya mengimplementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sosial,” katanya.

Dipilih Sanggarbambu dipilih sebagai venue pelaksanaan acara, menurut Hasto sebagai bentuk penghormatan kepada para penggiat Sanggarbambu yang merupakan sebuah komunitas seniman yang sejak tahun 1959 konsisten menggerakkan dinamika kebudayaan di Yogyakarta. Sanggarbambu banyak melahirkan tokoh seni dan budaya.

“Lokasi Sanggarbambu cukup eksotis. Bangunan utama Sanggarbambu berupa rumah joglo tua yang sengaja dibiarkan tanpa dinding dan berada di tepi tempuran atau pertemuan dua sungai yakni sungai Bedog dan sungai Kalibayem. Suasana asri tepian sungai dipenuhi rerimbunan pohon menciptakan suasana hati yang teduh dan nyaman,” pungkasnya. (CDR)